Share this link via
Or copy link
Jl. Pondok Pesantren Al-Asy'ari Keras
Pagi itu, 2 Mei 2026, halaman MTsN 15 Jombang terasa lebih hening dari biasanya. Barisan siswa berdiri rapi, seragam yang dikenakan tampak lebih tertata, dan wajah-wajah muda itu menyimpan satu kesadaran yang sama: hari itu bukan hari biasa. Hari Pendidikan Nasional selalu membawa jeda—untuk berhenti sejenak dari rutinitas, lalu menengok kembali arah perjalanan pendidikan.
Upacara berlangsung khidmat, diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Tidak ada yang tergesa. Setiap rangkaian dijalani dengan tertib, seolah semua sepakat memberi ruang pada makna yang sering kali terlewat di hari-hari biasa.
Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala MTsN 15 Jombang, Dra. Umi Khoiriyah, M.Pd.I., menyampaikan amanat yang tidak sekadar formalitas. Suaranya tenang, tetapi cukup untuk menjangkau barisan paling belakang. Dalam penyampaiannya, ia mengajak seluruh peserta upacara untuk memahami pendidikan bukan hanya sebagai proses belajar di kelas, melainkan perjalanan panjang membentuk manusia yang utuh.
.jpeg)
Hari Pendidikan Nasional, menurutnya, bukan sekadar peringatan historis, tetapi momentum untuk memperkuat kembali komitmen. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, pendidikan tidak boleh kehilangan arah. Ia harus tetap berpijak pada nilai, sekaligus mampu menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan.
Dalam amanat tersebut, terselip pesan sederhana namun mendasar: belajar bukan kewajiban yang membebani, tetapi kebutuhan yang memerdekakan. Siswa diajak untuk melihat proses belajar sebagai kesempatan bertumbuh, bukan sekadar mengejar nilai. Sementara itu, para guru diingatkan bahwa peran mereka tidak berhenti pada penyampaian materi, melainkan sebagai pendamping yang menumbuhkan karakter.
Suasana upacara tetap terjaga hingga akhir. Petugas upacara dari unsur siswa menjalankan tugas dengan tertib—mulai dari pengibaran bendera, pembacaan teks, hingga penghormatan kepada pembina. Tidak ada kesalahan berarti, hanya ada kesungguhan yang terasa dalam setiap gerak.
Di balik kekhidmatan itu, ada hal yang tidak kasat mata namun terasa kuat: kebersamaan. Hari itu, seluruh warga madrasah berdiri dalam satu barisan yang sama—tanpa sekat antara kelas, tanpa jarak antara guru dan siswa. Semua hadir sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang saling terhubung.
Upacara Hari Pendidikan Nasional di MTsN 15 Jombang mungkin tampak sederhana. Tidak ada panggung besar, tidak ada perayaan yang berlebihan. Namun justru di situlah letak maknanya. Kesederhanaan memberi ruang bagi refleksi—tentang apa yang sudah dilakukan, dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Usai upacara, madrasah melaksanakan deklarasi Sekolah Ramah Anak (SRA) yang dihadiri oleh Fasilitator Nasional SRA, Umi Mahmudah, S.Pd., M.Ed. Setelah seluruh rangkaian acara usai, barisan perlahan dibubarkan. Siswa kembali ke kelas, guru melanjutkan aktivitas mengajar. Rutinitas kembali berjalan. Namun, setidaknya pagi itu telah meninggalkan sesuatu: kesadaran kecil yang mungkin akan tumbuh perlahan—bahwa pendidikan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan yang sedang dipersiapkan.
Dari halaman MTsN 15 Jombang, peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat yang tenang namun tegas: bahwa setiap langkah kecil dalam belajar dan mengajar, pada akhirnya, akan menentukan arah besar sebuah bangsa. (Anik Zahra)