Share this link via
Or copy link
Jl. Pondok Pesantren Al-Asy'ari Keras
Menjadi pemimpin tidak cukup hanya berani berdiri di depan. Ia perlu tahu kapan mengambil keputusan, bagaimana bekerja bersama, dan yang tak kalah penting, mampu bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat. Semangat itulah yang dibawa dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) Pengurus OSIM MTsN 15 Jombang Tahun Ajaran 2026/2027 yang digelar di kawasan Wonosalam, Jombang, Rabu–Kamis, 23–24 September 2026.
Kegiatan yang dikemas dalam Deep Learning Leadership Training tersebut dibuka langsung oleh Kepala MTsN 15 Jombang, Dra. Umi Khoiriyah, M.Pd.I. Para pengurus OSIM mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengasah kepemimpinan melalui pengalaman langsung, refleksi, tantangan, dan kerja tim.

Dari madrasah, rombongan berangkat menuju lokasi pada Rabu pagi. Setelah tiba, kegiatan diawali dengan opening ceremony. Peserta kemudian mengikuti pembagian kamar dan melaksanakan salat zuhur sebelum menikmati makan siang yang telah disiapkan. Suasana pelatihan mulai diarahkan pada pengenalan prinsip-prinsip kepemimpinan melalui sesi Leadership Rule dan Leadership Report.
Memasuki sore hari, kegiatan tidak berhenti pada materi. Setelah jeda dan salat asar, peserta mengikuti Leadership Experiment. Pada sesi ini, kepemimpinan ditempatkan sebagai pengalaman yang harus dijalani, bukan sekadar konsep yang dihafalkan. Peserta ditantang untuk berkomunikasi, membaca situasi, membagi peran, dan mengambil keputusan bersama.
Malam harinya, setelah bersih diri, salat magrib, makan malam, dan salat isya, pengurus OSIM kembali mengikuti Leadership Challenge. Tantangan tersebut menjadi bagian penting dari pelatihan karena kepemimpinan sering kali justru terlihat ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang tidak sepenuhnya mudah diprediksi.
Hari kedua dimulai lebih pagi. Setelah salat subuh, peserta melakukan persiapan diri dan olahraga pagi. Pukul 06.30, kegiatan dilanjutkan dengan sarapan sekaligus room inspection. Disiplin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Hal-hal sederhana seperti ketertiban kamar, kesiapan mengikuti kegiatan, dan kepedulian terhadap lingkungan bersama menjadi latihan tanggung jawab dalam bentuk yang nyata.
Rangkaian berikutnya adalah Teamwork Building. Pengurus OSIM belajar bahwa sebuah organisasi tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan satu atau dua orang. Setiap anggota memiliki peran yang saling melengkapi. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi New Leader dan Leadership Messages, sebelum ditutup melalui closing ceremony.
LDKS ini menjadi ruang pembelajaran yang berbeda dari kegiatan di dalam kelas. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi mengalami sendiri bagaimana rasanya bekerja dalam tim, menghadapi tantangan, menjaga disiplin, dan menyelesaikan tugas bersama. Bagi pengurus OSIM MTsN 15 Jombang, dua hari di Wonosalam bukan sekadar agenda pelatihan. Di tempat yang jauh sejenak dari rutinitas madrasah itu, mereka belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling sering berbicara atau berada di barisan depan. Kepemimpinan tumbuh dari kesediaan untuk belajar, melayani, bekerja bersama, dan berani bertanggung jawab.
Dari Wonosalam, para pengurus OSIM kembali ke madrasah dengan satu pekerjaan yang lebih besar: menerjemahkan pengalaman menjadi gerak nyata dalam kehidupan organisasi dan lingkungan MTsN 15 Jombang. (Anik Zahra)