Share this link via
Or copy link
Jl. Pondok Pesantren Al-Asy'ari Keras
Kamis pagi, ruang guru MTsN 15 Jombang tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma ruang bertumbuh—tempat gagasan, refleksi, dan semangat para pendidik saling bertaut. Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digelar untuk guru MTsN 15 Jombang dan anggota KKMTs Jombang 13 menjadi penanda bahwa pendidikan sejatinya tak pernah lepas dari nilai-nilai kemanusiaan.
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 guru ini menghadirkan Umi Mahmudah, S.Pd., M.Ed, selaku pengawas madrasah KKMTs Jombang 13, sebagai pemateri utama. Sejak awal, suasana workshop terasa berbeda—hangat, dialogis, dan jauh dari kesan formal yang kaku. Barangkali karena tema yang diangkat memang menyentuh jantung pendidikan itu sendiri: cinta.
Dalam pemaparannya, Umi Mahmudah mengajak peserta untuk memaknai kembali peran guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga penumbuh nilai. Kurikulum Berbasis Cinta, menurutnya, bukan konsep abstrak, melainkan praktik keseharian yang tercermin dari cara guru menyapa siswa, menyusun pembelajaran, hingga membangun budaya madrasah yang ramah dan manusiawi.
“Pendidikan tidak akan hidup jika hanya berisi target dan angka. Ia tumbuh ketika ada cinta di dalamnya,” ungkapnya, disambut anggukan para peserta.

Workshop ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan kerja kelompok. Peserta dibagi menjadi empat kelompok besar, masing-masing membahas implementasi KBC dalam ruang yang berbeda: budaya madrasah, intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Setiap kelompok menggali pengalaman nyata di lapangan, merumuskan tantangan, sekaligus menyusun gagasan aplikatif yang bisa langsung diterapkan.
Menariknya, meski kegiatan berlangsung di jam rawan—saat energi mulai menurun—antusiasme peserta tetap terjaga. Tidak ada wajah lelah yang berlarut. Bahkan, suasana semakin cair ketika seluruh peserta diajak menyanyikan “Tepuk Panca Cinta”, sebuah pengingat sederhana namun bermakna tentang nilai-nilai dasar yang harus terus hidup dalam dunia pendidikan. Tepuk tangan menggema, tawa mengalir, dan semangat kembali terisi. Momen itu seolah menjadi jeda yang menegaskan bahwa kebersamaan dan keceriaan juga bagian dari proses belajar orang dewasa.

Sesi akhir diisi dengan presentasi hasil diskusi kelompok. Masing-masing kelompok menyampaikan gagasan mereka dengan sudut pandang yang beragam, mulai dari penguatan karakter melalui budaya madrasah, integrasi nilai cinta dalam pembelajaran kelas, hingga pengembangan kegiatan ekstrakurikuler yang lebih humanis dan inklusif. Workshop ditutup dengan refleksi bersama. Bukan tentang seberapa sempurna konsep yang dihasilkan, melainkan sejauh mana para guru siap membawa semangat cinta itu kembali ke ruang kelas masing-masing.
Bagi MTsN 15 Jombang dan KKMTs Jombang 13, kegiatan ini bukan sekadar agenda pelatihan. Ia menjadi pengingat bahwa pendidikan yang kuat tidak hanya dibangun dari kurikulum dan administrasi, tetapi dari hati para pendidik yang terus belajar untuk memahami, membimbing, dan membersamai peserta didiknya. Di tengah tantangan dunia pendidikan yang kian kompleks, workshop ini seakan menegaskan satu hal sederhana: mengajar dengan cinta bukan pilihan, melainkan kebutuhan. (Anik Zahra)
