Share this link via
Or copy link
Jl. Pondok Pesantren Al-Asy'ari Keras
Ada pemandangan yang berbeda di lingkungan MTsN 15 Jombang dalam beberapa hari terakhir. Jika biasanya waktu istirahat identik dengan kemasan plastik, gelas sekali pakai, atau kantong makanan berserakan, kali ini suasananya berubah. Siswa-siswi duduk bersama menikmati makanan MBG dengan piring/ompreng, botol minum/tumbler, dan alat makan yang mereka bawa sendiri dari rumah. Tidak ada plastik sekali pakai. Tidak ada sendok sekali buang.
Langkah sederhana itu menjadi bagian dari gerakan menyambut Adiwiyata Nasional, sebuah ikhtiar yang sedang diperkuat MTsN 15 Jombang untuk menegaskan diri sebagai madrasah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Melalui kegiatan makan bersama bebas alat makan berbahan dasar plastik, madrasah ingin membangun kesadaran ekologis dari hal-hal kecil yang selama ini sering dianggap sepele. Sebab persoalan sampah plastik bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga soal kebiasaan.
Sejak pagi setelah salat dhuha dan dia bersama menjelang libur kenaikan kelas, siswa telah diimbau membawa wadah makan, botol minum, dan alat makan pribadi dari rumah. Di musala madrasah dan area kelas, suasana makan bersama berlangsung hangat. Bekal yang dibawa beragam, dari nasi, lauk sederhana, hingga jajanan tradisional. Namun ada satu kesamaan: semuanya tanpa plastik. Kegiatan ini bukan sekadar simbolik. Di balik makan bersama itu, ada pesan yang sedang dibangun perlahan—bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari meja makan.
Kepala MTsN 15 Jombang, Dra. Umi Khoiriyah, M.Pd.I, menegaskan bahwa persiapan menuju Adiwiyata Nasional tidak cukup hanya dengan mempercantik taman atau memperbanyak tanaman hijau. Menurutnya, yang paling penting adalah membangun budaya sadar lingkungan di kalangan siswa.
“Adiwiyata itu bukan lomba sesaat. Ini adalah pembiasaan. Kalau anak-anak terbiasa mengurangi sampah plastik sejak sekarang, itu akan menjadi bekal hidup mereka ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, gerakan sederhana seperti membawa alat makan sendiri memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten. Selain mengurangi volume sampah, siswa juga belajar tentang tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan. Dalam pelaksanaannya, guru dan tenaga kependidikan turut terlibat. Mereka tidak hanya mengawasi, tetapi juga ikut membawa wadah makan pribadi dan duduk bersama siswa. Kebersamaan itu memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak bisa hanya disampaikan lewat teori, tetapi harus dicontohkan langsung.
Beberapa siswa mengaku awalnya merasa repot karena harus membawa perlengkapan makan dari rumah. Namun setelah dijalani, mereka mulai memahami manfaatnya.
“Biasanya habis makan langsung buang plastik. Sekarang jadi sadar ternyata sampah plastik itu banyak sekali,” ujar salah satu siswa.
Kesadaran seperti itulah yang sedang dibangun MTsN 15 Jombang. Sebab pendidikan lingkungan pada dasarnya bukan soal larangan, tetapi soal membiasakan pilihan yang lebih baik. Program ini juga menjadi bagian dari penguatan karakter madrasah. Di samping nilai akademik, MTsN 15 Jombang terus berupaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral generasi muda.
Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai gerakan berbasis lingkungan mulai digalakkan, mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan, bank sampah, hingga pengurangan plastik sekali pakai. Semua diarahkan untuk memperkuat ekosistem madrasah yang sehat, bersih, dan berkelanjutan. Bagi MTsN 15 Jombang, Adiwiyata Nasional bukan sekadar target administratif, tetapi ruang untuk meneguhkan identitas bahwa madrasah bisa menjadi contoh dalam menjaga lingkungan.
Dari piring makan yang dibawa sendiri, dari botol minum yang diisi ulang, dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama—sebuah perubahan sedang dibangun. Dan sering kali, perubahan besar memang lahir dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan berulang, dengan kesadaran penuh. Di MTsN 15 Jombang, langkah itu kini sedang dimulai, satu sendok, satu piring, tanpa plastik. (Anik Zahra)